Perjalananku, Hingga di Vonis "Penebalan Dinding Rahim"
Daftar Isi
Hatiku hancur, nyaliku ciut dan merasa tidak percaya diri.
“Ibu apa waktunya haid?, tanya dokter Riri, S.PoG”
“Saya barusan haid bu”
“Hla ini kok ada gumpalan di area ini, sambil menunjukkan tanda mouse di layar USG”
“Itu maksudnya apa ya dok?, tanyaku penasaran”
“Ada penebalan dinding rahim. Sebelah kiri dan kanan tidak ada mium, kista dan tumor”
Air mataku hampir jatuh membasahi pipi. Ku tahan. Demi mendengarkan lebih lanjut penjelasan dr Ririn, S.PoG.
“Coba ya nanti, dalam kurun waktu 3 bulan diamati. Siklus menstruasinya bagaimana. Penebalan dinding rahim terjadi biasanya ditandai dengan menstruasi sering dengan durasi cukup lama. Seperti pendarahan yang tidak tuntas. Jika dalam 3 bulan ini tidak ada perubahan, solusi terbaiknya ya di laser/kuretase”
“Sontak, pikiranku semakin kalut. Ya Rab, ujian apalagi ini. Untuk proses lasernya nanti dimana dok, apa harus di rumah sakit?, tanyaku dengan suara lirih”
“Disini ada, itu alatnya, dokter Ririn sambil menunjuk ke arah kananku”
Pikiranku kemana-mana. Jika nanti di laser, aku harus meninggalkan anakku. Terus nanti aku yang nungguin siapa. Itu isi pikiranku. Namun, semua terjawab dan bikin sedikit lega ketika dokter Ririn menyampaikan kalau proses laser/kuretase bisa dilakukan di klinik kasih ibu , tempat praktik dokter Ririn.
Penebalan Dinding Rahim
Sebelum aku menceritakan kronologis mendapat ujian penyakit ini, 3 tahun yang lalu aku mengalami gejala ekstrim di area vaginaku. Ada rasa gatal, nyeri dan keputihanku tidaklah normal. Banyak, berwarna hijau, tidak bau dan cukup risih dengan kondisi itu.
Seiring berjalannya waktu, aku menahan cukup lama rasa tidak nyaman itu. Karena memang isi dompet belum banyak, diiringi rasa takut dan tidak percaya diri yang berkesudahan, membuatku bungkam untuk berobat. Pemikiran ini yang salah sebenarnya.
Namun, entah apa yang merasuki pikiranku kala itu. Aku baru beranjak untuk berobat setelah hampir 5 bulanan mendapati kondisi yang aku sebutkan tadi. Gila ya !
Berobat ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin
Singkat cerita, aku berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin. Ke dokter Ninik, aku berniat untuk sembuh. Cerita ini itu dan berobat sekitar dua kali, tetap nihil. Coba lagi ke dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter Kartika di Jalan Brawijaya. Bikin kapok juga, karena tarif sedikit mahal dari dokter sebelumnya. Dan ada tragedi anakku nangis tak berkesudahan karena menunggu terlalu lama. Jika teringat masa itu, aku pun ingin menangis. Tapi ya sudahlah, itu sudah berlalu.
Berobat Ke Dokter Umum dan Ke Puskesmas
Berobat juga ke dokter Hafiz, langgananku. Itupun nihil. Bisa dikatakan, berobat kesana kemarin, penyakit itu kambuh. Hingga ke puskesmas ya sama. Diberi obat minum dan yang dimasukkan ke vagina. Aku diedukasi sama Bu Bidan, kalau mencuci daleman jangan pakai sabun. Ceboklah dengan air yang mengalir. Pastikan, area vagina tidak lembab.
Its oke, akan aku lakukan semua anjuran itu bu bidan, Dalam batinku.
Karena merasa lelah, aku ikhtiar pakai herbal. Minum jamu racikan dari tabib. Membuat rasa nyeri, gatal dan keputihan berkurang banyak. Namun, lama-lama aku eneg juga. Jika berhenti tidak minum jamu tersebut, kumat lagi. Efek samping minum jamu itu, pusing dan bikin ogah makan karena pahitnya enggak ketulungan.
Tahun 2024 mendekati akhir tahun, aku ikhtiar lagi berobat selama dua kali ke dokter Nunik. Awalnya sembuh. Tapi selang beberapa minggu, kumat lagi.
Cek IVA Di Puskesmas
Qodarullah, mungkin semua sudah saatnya aku tahu apa penyakitku ya. Setelah mendengarkan podcast Nikita Willy tentang pentingya memahami masa reproduksi pada wanita di setiap fasenya, aku terketuk untuk melakukan cek IVA.
Dalam waktu dekat setelah mendengarkan podcast, aku whatsapp bidan yang biasanya menangani pasien di KIA Puskesmas dekat rumah. Biayanya hanya Rp 7000. Aku jalani walau pada prosesnya, vaginaku seperti diobok-obok karena bidannya tidak pakai pelumas.
Aku dinyatakan negatif, dari hasil cek IVA. Namun, ada yang membuat bidannya curiga, karena keputihanku sangat banyak. Bidan menyebutnya, vaginaku mengalami erosi.
Selang beberapa minggu, aku curhat dengan kakak iparku yang juga seorang bidan. Ngobrol ngalor ngidul yang intinya berbicara tentang kondisiku, pasca cek iva (Januari 2025). disarankan bidan untuk ke dokter kandungan jika penyakitku kambuh, aku penasaran. Kenapa harus cek ke dokter kandungan?
Selama beberapa menit aku ditanya ini dan itu, rasa penasaran dokter justru membuatku juga penasaran. Tapi apalah daya. Obrolan beberapa menit berujung, ya sudahlah. Ini takdir.
Kegelisahan di hari-hariku
Hidup dalam kegelisahan, memang tidaklah nyaman. Pada situasi ini, aku berusaha untuk menata diri dan juga hati. Biasa, di luar aku berlagak menjadi wanita kuat. Di balik layar, aku sangatlah rapuh.
Kondisi ini berlangsung cukup lama. Bahkan, aku seperti tokoh dalam animasi, yang bisa saja berubah menjadi baik dan sebaliknya.
Saking gamangnya diriku, sehingga, aku seperti air yang terus mengalir. Disitu, aku lupa bahwa masih ada Allah di setiap langkahku.
Sampai di titik, oh, ini jawabannya.
Maret 2025, tepatnya tanggal enam. Aku harus berdamai dengan keadaan. Mau tidak mau, aku harus membuat jurnal perjalanan menyedihkan ini untuk bisa ku terima dengan ikhlas.
Ya, karena aku harus mencatat di tiga bulan ini, perjalanan menstruasiku normal apa tidak. Aku juga sudah mengkomunikasikan dengan suami. Namun, rasa bersalah tetap menyelimuti. Ya sudahlah.
Titik Terang
Semua memang berpusat pada pikiran. Aku menata diri dan hati, bahwa semua ini terjadi tentu atas ijin Allah. Aku berusaha untuk menata mindset. Bahwa , ikhlas dan sabar adalah jalan satu-satunya yang menjadi penguatku. Mungkin, agak random yang aku ceritakan disini.
Hikmah yang ingin aku sampaikan kepada teman perempuan disini adalah. Kesehatan reproduksi sangat penting untuk dipelajari. Pola makan, kesehatan, gaya hidup sehat, harus terus diperjuangkan meski banyak tantangan.
Masa kecil dan masa mudaku, kesehatan begini tidak aku dapatkan. Jadi, aku anggap ini adalah warning keras. Agar dapat menjalankan peranku sebagai istri dan ibu sebagaimana islam mengajarkan.
Memilih teman perempuan untuk berbagi cerita, sangat dibutuhkan. Mengingat, kadang agak tabu, tapi, bercerita kepada orang yang ahli dalam hal kesehatan reproduksi, begitu penting. Jangan seperti diriku, yang takut ini itu tapi, berujung panjang seperti ini.
Kalau kata kakak iparku yang seorang bidan, ini namanya dipengaruhi hormon. Disuruh sabar sebentar, dan insha allah akan ada keindahan setelahnya.
Wallohu alam bishowab. Bismillah, semeleh.
Posting Komentar